Senin, 09 April 2012

Paskah Anak 2012

Pada tanggal 8 April 2012, Komisi Pembinaan Anak dan Remaja Pokja Anak GKJW Jemaat Malang mengadakan Paskah Anak 2012 yang mengambil tema "Tubuhku adalah Bait Allah" yang dihadiri kurang lebih 150 anak Jemaat.




 

 Sebagai pembicara adalah dr.AR Kambodji yang menyampaikan renungannya bagaimana kita menjaga tubuh supaya menjadi dan selalu sehat karena tubuh kita pada dasarnya bukan hanya milik kita tetapi milik orang tua, milik kakek nenek dan milik semua orang. Oleh karena itu anak-anak harus bisa menjaga kebersihan dan kesehatan tubuhnya. (I Kor 6:19-20)



 Pada rangkaian acara tersebut juga diadakan kegiatan menghias telur Paskah....















Pada Acara Paskah Anak 2012, anak-anak juga diajarkan bagaimana sikat gigi dan cuci tangan yang benar oleh dr. Rino, dr. Vika dan Kristian. Setelah mendapatkan penjelasan, anak-anak diberikan kesempatan untuk mempraktekkan sikat gigi dan cuci tangan dengan dipandu dan didampingi pamong dan pemuda gereja




Bersamaan dengan itu juga dilaksanakan Seminar dengan tema Nutrisi yang Seimbang untuk Anak Prasekolah dan Sekolah oleh Dwipajati, S.St (Dosen Jurusan Gizi Poltekes Kemenkes Malang dan Ahli Gizi  Klinik Kota Malang). Acara ini dihadiri kurang lebih 40 orang tua.





















Acara ini didukung oleh Wing's Production (Sikat gigi dan pasta gigi Kodomo) dan Sustagen



(Koleksi : CYP)

Perjamuan Kasih Paskah 2012

Pada tanggal 8 April 2012, setelah Kebaktian Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, di GKJW Jermaat Malang dilaksanakan Perjamuan Kasih.

Mulai hari Sabtu tanggal 7 April 2012,  Ibu-ibu Jemaat dan Bapak-bapak Paguyuban KATAK (Karena Aku Takut Akan Kristus) sudah mempersiapkan kegiatan Perjamuan Kasih.


Perjamuan Kasih....


 Sambil menikmati Perjamuan Kasih... Pemuda menampilkan kemampuan memainkan musik Kolintang

(Koleksi : CYP)

Retreat Komisi Musik Gerejawi


Pada tanggal 22-23 Maret 2012, Komisi Musik Gerejawi GKJW Jemaat Malang mengadakan Retreat di Batu dengan mengambil tema Bernyanyilah bagiNya, Bermazmurlah bagiNya.









(Koleksi : Aditya)


Kebenaran Tidak Bernilai Rupiah


Bacaan : Matius 28:8-15
Nats       : “Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu.” (ayat 12)
KJ            : 393:1
Ada seorang mahasiswa, melalui temannya yang saya kenal baik, meminta saya untuk mengerjakan skripsinya dengan imbalan uang. Dan saya menolaknya dengan tegas. Dalam kehidupan nyata orang-orang bisa memperjual-belikan kebenaran.
Ketika para tentara penjaga kubur Tuhan Yesus mengetahui bahwa Tuhan Yesus telah bangkit, para imam kepala membungkam mereka dengan sejumlah uang supaya berbohong bahwa Tuhan Yesus bangkit dari kematian dan meminta mereka mengatakan bahwa jenazahNya dicuri oleh para muridNya. Jika mereka disalahkan atas hilangnya jenazah itu, para imam kepala akan berbicara dengan atasan mereka. Di sini terjadi mekanisme kebohongan yang melibatkan banyak orang: bawahan dan atasan. Jadi jual-beli kebenaran itu tidak hanya dilakukan oleh orang-orang besar yang berkuasa saja tetapi juga melibatkan orang-orang kecil di bawahnya.
Hal kebohongan seperti ini bisa terjadi pada diri kita dengan iming-iming sejumlah uang atau materi. Uang bisa membuat kita untuk lepas kontrol dari ajaran Tuhan.
Kebenaran Allah telah ada dan akan tetaap ada dalam hati kita jika kita taat dan setia.  Semua tergantung pada kita, apakah kita akan tetap menjaga kebenaran itu atau malah menjualnya demi sejumlah uang. Kesulitan keuangan dan keinginan untuk memiliki lebih mudah jadi alasan, demi uang, melakukan kebohongan-kebohongan yang dianggap sebagai sebuah kebohongan kecil saja. Tetapi tidak tahukah bahwa Tuhan sudah menyediakan berlimpah-limpah berkat bagi umat-Nya yang setia jauh melebihi sejumlah uang yang akan kita dapatkan dari hasil menjual kebenaran?! Tetaplah berjalan lurus, meskipun kelihatannya kehidupan kita kekurangan. Tuhan akan menguatkan kita dan melepaskan kita dari pencobaan itu. Sehingga kita akhirnya bisa menikmati berkat-berkat yang telah Dia janjikan. [Gih]
“Kebenaran tidak tunduk kepada uang dan kekuasaan.”
Sumber Tulisan: gkjw.web.id
Sumber Gambar: 3.bp.blogspot.com

Jumat, 06 April 2012

The End



Waosan               : Yokanan 19: 28 – 30
Pamuji                  : KPK 263

Nats: “…. Gusti Yesus tumuli ngandika:”Wus rampung!”(ay 30)
Saben mirsani film utawi sinetron tamtu yen sampun kaserat TAMAT utawi SELESAI utawi THE END menika mratandani bilih film utawi sinetron menika cariosipun rampung. Ananging tembung “WUS RAMPUNG” kados dawuh pangandikanipun Gusti Yesus ing kajeng salib menapa ugi sampun rampung cariosipun Gusti Yesus? Yen menika mratandhani cariosipun Gusti Yesus sampun rampung tamtu pamirsa kuciwa awit pungkasanipun boten sae. Umpami Gusti Yesus menika jagoanipun tamtu pungkasanipun carios jagoanipun seda. Tamtu dawuhipun Gusti Yesus “WUS RAMPUNG” menika boten makaten. Lajeng kados pundi tegesipun?
Sepisan, “wus rampung” ngemu teges bilih ayahanipun Gusti Yesus nebus dosa-dosanipun manungsa menika sampun rampun. Puputing kasetyanipun Gusti Yesus anggenipun netepi timbalanipun Sang Rama pancen sampun rampung. Anggenipun paring pawartos pamratobat srana mukjijat lan pratandhanipun swarga pancen sampun rampung. Samangke kantun dhateng manungsa, menapa purun pitados dhateng Gusti Yesus menapa nyingkur Gusti Yesus?
Kalih, sadaya dayaning dosa inggih menika pati, kasedihan, was sumelang lan sesakit sampun rampung dipun tebus dening Gusti Yesus. Kanthi makaten gesanging tiyang pitados sampun kawengku ing gesang enggal ingkang kebak pangajeng-ajeng. Gesang kita ingkang rumaos kemrungsung, ngoyo-oyo lan rekasa samangke sampun dipun rampungi dening Gusti Yesus. Jer, kita pitados bilih sedanipun Gusti menika pancen ngrampungi sedaya momotaning gesang kita. Kados pundi samangke? Yen ngantos samangke kita taksih nyanggi maneka warni momodaning gesang, sumangga kita pasrahaken dhateng Gusti Yesus ing kajeng salib, supados dipun rampungi. Ingkang baken Gusti dawuh “WUS RAMPUNG/TAMAT/SELESAI/The END” (to2k)
“Srana sedaniPun ing kajeng salib, Gusti Yesus ngrampungi sadaya momotaning gesang.”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : kuasadoa.com

Kamis, 05 April 2012

Merendahkan Diri Seperti Kristus


Bacaan : Yohanes 13:1-15
Nats       : “…. Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya” (ayat 5)
KJ            : 158:1
Sikap yang sering dijumpai oleh sebagian pemimpin yang bisa kita amati adalah ia ingin diperlakukan dengan istimewa. Dibukakan pintu mobil oleh sopir, semua keperluan disiapkan, orang yang lewat di depannya mambungkuk memberi hormat, makanan diantar ke ruang kerjanya, semua tinggal perintah saja. Ya, itulah sifat dasar manusia yang mudah mencapai kesombongan ketika kenyamanan hidup sudah didapatkan.
Sungguh jauh berbeda dengan teladan kepemimpinan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dengan segala kemuliaanNya, Tuhan Yesus rela merendahkan diri menjadi sama dengan manusia. Tidak hanya sebatas itu, Tuhan Yesus pun mau melayani para muridNya. Pembasuhan kaki yang dilakukan Tuhan Yesus kepada para muridNya adalah bentuk pelayanan sejati yang penuh dengan kerendahan hati. Jika pemimpin dunia ini berlomba mengejar hormat dari semua orang, Tuhan Yesus memberikan teladan sebagai pemimpin yang mau memberi hormat bagi orang yang dipimpinNya.
Besok, kita akan masuk dalam perjamuan kudus Jumat Agung. Melalui peringatan akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib ini, patutlah kita semakin diperlengkapi untuk mampu menjadi pribadi yang rendah hati seperti Tuhan Yesus. Penebusan dosa manusia bukan hanya untuk menyelamatkan kehidupan manusia, tetapi juga untuk mengubah hati manusia supaya memiliki kerendahan hati seperti Tuhan Yesus. Orang yang rendah hati selalu rela berkorban untuk orang lain, termasuk mengorbankan gengsinya. [RH]
“Orang yang tinggi hati, merendahkan korban Kristus; orang yang menerima korban Kristus selalu merendahkan diri”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber Gambar : 4.bp.blogspot.com

Rabu, 04 April 2012

Nyade Kapitadosan = Bucal Kawilujengan


Waosan               : Mateus 26 : 14 – 25
Pamuji                  : KPK 55

Nats: “Kula badhe kaparingan punapa…. (ay: 15)
Dados pandherekipun Gusti ing negari Indonesia sanes bab ingkang gampil. Kathah panggodha lan pepalang saha tantangan ingkang ndadosaken sedayanipun karaos awrat. Wujuding panggodha-panggodha punika maneka warni, wiwit saking himpitan sacara fisik ngantos himpitan sacara psikis. Wiwit saking karir panyambut damel ngantos himpitan ekonomi. Saking himpitan-himpitan punika, tiyang pitados saged nilaraken kapitadosanipun murih pikantuk “kaluberan” lan “kanikmatan” ing gesang punika. Ukara ingkang pas lan cocok kaliyan kawontenan punika inggih punika “NYADE KAPITADOSAN MURIH LUBERING KABEKTAHAN GESANG”.  Sampun kathah sanget conto-conto ingkang saged kita tingali ing pigesangan punika magepokan kaliyan nilaraken kapitadosan namung karana iming-iming kaluberan lan kanikmataning ndonya.
Boten tebih kaliyan lelakonipun Yudas Iskariot salah satunggaling sekabatipun Gusti Yesus. Namung karana 30 keping perak Gusti Yesus kasade. Yudas Iskariot punika minangka kaca pangilo kagem tiyang-tiyang murtad ingkang nilaraken Gusti namung karana bandha kadonyan. Kita sadaya sami sumurup, tumrap kawontenan manungsa ingkang mekaten gesangipun tansah boten ayem lan boten tentrem. Awit Yudas Iskariot piyambak pungkasanipun, mungkasi gesangipun kanthi cara ingkang boten ngremenaken lan mrihatosaken sanget.
Pramila, sampun ngantos kita kapincut godhaning ndonya ingkang ketingal nengsemaken menika. Kawilujengan ingkang dipun cawisaken dening Gusti langkung aji tinimbang godhaning ndonya. Kawilujengan punika saged lestari langgeng namung wonten ing gesangipun tiyang-tiyang ingkang kiat, teguh lan setya dhumateng Panjenenganipun. Amin. [GaSa]
“Iman kapitadosan punika kuncining kori kawilujengan. Yen kunci punika kasade, korining kawilujengan boten badhe saged kawengakaken”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : gsja.org

Selasa, 03 April 2012

Kekekalan Berita Keselamatan



Bacaan : Yesaya 49:1-6

Nats       : “Aku mengabarkan kepadamu hal-hal yang baru dari sejak sekarang, dan hal-hal yang tersimpan yang belum kau ketahui” (ayat 6)
KJ            : 49:1
Adakah yang kekal di dalam hidup ini? Semua akan musnah seiring dengan berjalannya waktu. Mungkin yang tertinggal adalah kenangan, cerita, dan harapan dalam kehidupan kita. Saat kita larut dalam perjalanan kehidupan kita, sesaat terlupa bahwa akan ada perhentian kekal. Di dalam Kristus selalu ada harapan keselamatan hidup kekal. Sebab Ia telah mengorbankan diriNya sampai mati di kayu salib, menggenapi karya keselamatan Allah.
Sepanjang kita mengenal Sang Kristus, sudah berapa kalikah kita mendengarkan kisah kematian Tuhan Yesus di kayu salib? Mungkin kita tidak bisa menghitung seberapa banyak kisah keselamatan Tuhan Yesus kita dengar. Kemampuan kita terbatas untuk bisa mengingat dengan pasti sudah berapa kali kita mendengar dan memahami kabar keselamatan Tuhan, tetapi karya keselamatan Allah kekal di sepanjang hidup kita.
Tuhan Allah menciptakan masa depan yang baru dalam kehidupan iman kita bersama dengan Sang Kristus. Dan kabar masa depan yang baru ini sudah dikisahkan jauh sebelum kita ada di dunia ini, inilah kekekalan berita keselamatan dari Allah yang bisa sampai ke telinga kita sekarang. Jika masa depan yang baru sudah dinyatakan dengan karya keselamatan manusia melalui penebusan darah Tuhan Yesus, apakah yang bisa lakukan untuk menjaga kekekalan kasih Allah dalam hidup kita? [RH]
“Kekekalan berita keselamatan senantiasa dinyatakan Allah dalam kehidupan kita”
Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : 2.bp.blogspot.com

Senin, 02 April 2012

Opo Gunane Urip?


Waosan               : Yesaya 42:1-7
Pamuji                  : KPK. 176:1,2

Nalika taksih remaja, kula nate taken dhateng dhiri kula piyambak: “apa se sejatine tujuane uripe manungsa ngono?”. Bokmenawi pitaken kula menika tuwuh krana kalasemanten kula gumun kaliyan donya menika, dene menapa kathah tiyang wira-wiri, umyek mrika-mriki, apa sejatine sing digoleki? Kathah tiyang sami repot nggayuh sawetawis, nanging sejatine apa ta sing digoleki?
Gegilut pitaken ing nginggil kalawau, wonten ahli teologi saking swiss, Karl Barth, nate paring piwucal bilih sejatosipun tiyang Kristen boten perlu taken tumraping tujuan gesangipun. Leres pancen, awit srana dados Kristen, otomatis menika sampun nedahaken identitas sarta tujuan gesanging manungsa. Dados Kristen sejatosipun inggih dados “pandhereke Kristus”. Srana makaten, tujuan gesang manungsa Kristen sejatosipun inggih tumuju  “tujuan Kristus” piyambak.
Dhawuhipun Gusti dinten menika paring pitedah bilih manungsa pancen nggadhahi angkahing gesang (tujuan). Nanging tujuan gesangipun manungsa menika sanes manungsa piyambak ingkang ndamel. Ugi sanes rancanganing manungsa piyambak. Tujuan gesanging manungsa malah sangsaya minulya malih, krana Gusti Allah ingkang paring karsa. Kula lan panjenengan ugi perangan saking rancanganipun Gusti Allah.
Krana Gusti Allah menika ingkang nemtoaken tujuaning gesang, ateges gesang kula lan panjenengan menika minangka respon/wangsulan kangge nedahaken pambangun turut kita dhumateng Gusti Allah, kados Gusti Yesus anggenipun mbangun turut dhumateng Kang Rama. Pungkasanipun, nalika manungsa taken tujuan gesangipun, prayogi menawi lajeng taken: “menapa timbalanipun Gusti dhateng dhirinipun piyambak?” Lan sumangga kita mujudaken respon (wangsulan) kita tumrap timbalanipun Gusti menika srana wujud pambangun turut kita dhumateng Gusti Allah ing gesang saben ari. (Krispong)
“Urip kang kebak ing tujuan ora gumantung sepira dawane umur kita ana donya, ananging gumantung sepira gedhene panggawe becik kang kita lakoni ing sajrone urip.”

Sumber Tulisan : gkjw.web.id
Sumber gambar : http://4.bp.blogspot.com