Rabu, 18 Maret 2015

Bedhamen Iku Endah

Waosan: Roma 8:1-11    |   Pamuji: KPK 176
Nats: 
“Awit dene pangangen-angene daging iku pati, balik pangangen-angene Sang Roh iku urip lan tentrem rahayu.” (ayat 6)
Ing pasamuwan kawula tetunggilan, wonten sawetawis griya ingkang dipun tilar kesah nyambut damel tebih. Ingkang kagungan kesah dhateng kitha. Awis-awis dipun sambangi, awis-awis ugi kabikak. Saben dinten suwung lan katutup kemawon. Griya ingkang awis-awis dipun sambangi punika lajeng gapuk, cagak-cagakipun gapuk, wuwungipun inggih gapuk, blandar, usuk-rengipun ugi kathah nonoripun, krana boten karumat. Menawi dipun labur ngangge labur ingkang awis lan nggilap, tetep boten badhe ngicali kasunyatan menawi griya punika strukturipun sampun ringkih. Rikat napa rindhik, griya punika dangu-dangu saged ambruk.
Ngrembug bab bedhamen. Bedhamen kadosa menapa kemawon, ingkang tuwuh saking donya sejatosipun kados dene struktur griya kalawau. Bedhamen kalawau kabangun ing sainggiling pondasi ingkang ringkih, janji ingkang kalair, namung janji lan strategi tuwin taktik manungsa. Tuladhanipun: kontrak politik, ko-alisi politik, sedaya kamot kepentingan. “Yen nguntungne ya kanca, yen gak nguntungne berarti musuh.” “Isuk dele, sore tempe. Bedhamen namung kadya labur, namung dados lapisan, ingkang nglaburi pasulayan, kamangka batosipun dereng akur babar-pisan.
Ing waosan punika, Paulus ngrembug bab pamikir ingkang dipun kuwaosi dening Roh Suci, ciri-cirinipun:‘gesang’ lan ‘tentrem-rahayu.’ Ateges menawi kita nyumanggakaken Roh Suci dedalem ing batos kita, ing kapribaden kita bakal tuwuh wohing roh, inggih punika kwalitas (ajining) gesang ingkang endah lan nengsemaken kados dene: katresnan, kabungahan, tentrem-rahayu, sabar-sareh, paramarta, kabecikan lan setya, alusing bebuden, bisa ngemudheni dhiri. (Galati 5:22-23a).
Ibu Theresia nate ngandika: “wohing sidhem iku pandonga; wohing pandonga iku iman; wohing iman iku katresnan; wohing katresnan iku leladi; wohing leladi iku bedhamen.” Bedhamen utawi perang boten kawiwitan saking Timur Tengah, nanging kawiwitan saking griya. Menawi kita kepengin tentrem lan bedhamen ing jagad punika, sumangga kita wiwiti saking katresnan saben tiyang ing griya kita piyambak-piyambak. (Pong)
“Perjuangan Mendamaikan Dunia, Dimulai Dari Mendamaiakan Keluarga” (Bunda Theresia)

http://www.gkjw.web.id/bedhamen-iku-endah

Selasa, 17 Maret 2015

Haus

Bacaan: Yohanes 6:16-24   |   Pujian: KJ 57
Nats: 
“Mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.” (ay. 24b)
Pernahkah kita membayangkan, ketika kita naik motor untuk suatu perjalanan jauh, di siang hari yang terik dan tiba-tiba kita melihat ada penjual es teler yang terlihat begitu tampak menggoda, pastilah kita akan merasa tergoda untuk membelinya bukan? Lumayan…, paling tidak dapat menghilangkan rasa dahaga, atau mungkin malah bisa sangat melegakan. Sekarang, mari kita membayangkan bagaimana dengan mereka yang berada dalam perjalanan di tengah gurun pasir yang gersang dan kering, sementara tidak ada seorangpun yang menjual minuman? Tentu rasa haus akan segera terasakan. Bukan hanya itu saja, mungkin tubuh akan terasa lemas dan kepala terasa pusing tujuh keliling.
Bila diperbandingkan, maka kehidupan rohani bangsa Israel seolah-olah seperti pengembara yang sedang melakukan perjalanan di tengah padang gurun yang gersang. Meski setiap hari mereka juga beribadah kepada Allah dan mendengarkan firmanNya, namun entah mengapa mereka justru merasakan bahwa seolah-olah ada kekosongan di dalam diri mereka. Ada sebuah “rasa haus” untuk mengenal Allah, firman dan kehendakNya secara sungguh-sungguh.
Begitu hausnya bangsa itu sehingga mereka rela berbondong-bondong “mengejar” ke mana-pun Tuhan Yesus pergi. Mereka begitu antusias ingin mendengarkan pengajaranNya yang benar dan adil. Kehadiran Tuhan Yesus ibarat oasis (mata air di padang gersang) yang memberikan kesejukan dan menghapuskan rasa haus bangsa Israel.
Ah… jangan-jangan, kehidupan kita juga sedang mengalami kegersangan iman? Atau bahkan di ambang kematian iman? Bagaimana kita akan menyikapinya? Adakah kerinduan dalam diri kita untuk berupaya mencari Kristus seperti halnya orang-orang Israel yang ingin mendengarkan firmanNya? Nah, apabila jawabannya adalah ya, marilah kita mencoba mendengarkan suaraNya dengan cara setia beribadah dan membaca Alkitab serta merenungkannya melalui Pancaran Air Hidup ini. [DK]
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”

http://www.gkjw.web.id/haus

Senin, 16 Maret 2015

Diselamatkan Untuk Pekerjaan Baik

Bacaan : Efesus 2: 4-10.   | Pujian: KJ 365: 2, 3, 4.
Nats: 
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (ay. 10)
Sangat banyak orang tertarik menjadi Kristen. Sangat banyak juga orang Kristen yang rajin beribadah. Karena pikirnya, menjadi Kristen dan rajin beribadah itu mudah dan mendapatkan karunia besar, yaitu keselamatan kekal. Kebutuhan dan tujuan dasar yang paling pokok itu tidak perlu susah-susah diupayakan sendiri, dan tidak mungkin bisa diperoleh sendiri oleh manusia. Itu diberikan secara cuma-cuma oleh Kristus. Memang benar keselamatan kekal itu tidak bisa dikerjakan oleh manusia. Karena itu, tidak patut bagi orang Kristen memegahkan diri, menyombongkan diri. Sebab, semuanya adalah pemberian Tuhan.
Menjadi Kristen itu memang mudah. Tetapi menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah. Menjadi Kristen itu cukup percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Tetapi menjadi pengikut Kristus itu harus mengikuti dan melakukan segala pekerjaan baik yang sudah dilakukanNya, diteladankanNya dan disediakan bagi kita untuk kita lakukan. Karena itu, menjadi Kristen itu harus menjadi pengikut Kristus.
Kita diselamatkan bukan sekedar supaya kita bebas dari maut, upah dosa. Kita diselamatkan untuk melakukan segala pekerjaan baik yang disediakan oleh Allah bagi kita untuk kita lakukan. Kita diselamatkan dengan dibenarkan supaya kita melakukan dan menegakkan kebenaran. Kita diselamatkan karena kebaikan Tuhan supaya kita melakukan kebaikan kepada semua orang. Kita diselamatkan dengan perendahan diriNya sampai disalibkan supaya kita juga rendah hati, tidak memegahkan diri.
Menjadi Kristen itu mudah. Tetapi menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu menjadi warga gereja, itu tidak mudah. Kita diselamatkan supaya dan jika kita menjadi anggota tubuh Kristus. Menjadi anggota tubuh Kristus (warga gereja) itu berarti bertanggung jawab atas tubuh (gereja) itu.
Jadi, karena sudah diselamatkan, kita mestinya tidak hanya diam menerima dan menikmati karunia keselamatan itu. Kita mestinya tidak hanya mau beribadah saja. Kita mestinya terlibat dalam kegiatan-kegiatan pelayanan gereja sesuai dengan talenta kita masing-masing. [ST]
“Tuhan, tolonglah kami untuk menolong orang lain! Berkatilah kami untuk membagikan berkatMu kepada orang lain!”

http://www.gkjw.web.id/diselamatkan-untuk-pekerjaan-baik

Jumat, 13 Maret 2015

Ahh, maluuuu…!

Bacaan: Yohanes 8:33-47   |   Pujian: KJ 282:1-6.
Nats: 
“Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.“ (ayat 39b)
Ketika saya menjadi utusan GKJW sebagai pendeta di Gereja NHK (Nederlandse Hervormde Kerk) Belanda, bersama dengan kolega memberikan kursus dengan tema ‘Siapakah anda?’, berdasarkan pengalaman perkunjungan timbal-balik antara GKJW dan NHK. Pertanyaan diajukan oleh delegasi GKJW ketika berkunjung ke Belanda: Bagaimana masyarakat Belanda dapat mengenal anda sebagai orang Kristen? Simbol-simbol Kristen tidak (jarang) dipasang di rumah warga jemaat di Belanda. Sedangkan utusan Belanda ketika berkunjung ke GKJW dengan mudah menjumpai kalender dengan gambar-gambar cerita Alkitab dan Salib di rumah warga GKJW, sehingga memudahkan orang mengenalinya sebagai seorang Kristen.
Dalam kursus, para peserta diminta membawa simbol kekristenan dan menceritakan di mana simbol tersebut ditempatkan di rumahnya. Memasang simbol kekristenan di rumah merupakan hal yang lazim dilakukan di masa lalu, kini hal itu tidak diperlukan lagi, sebab agama merupakan persoalan pribadi. Karena itu mereka menyimpan dan memasang simbol-simbol kekristenan di tempat-tempat yang sifatnya pribadi, misalnya di kamar mandi/wc atau di kamar tidur dan tidak di ruang tamu. Di akhir kursus diadakan evaluasi, ternyata ada yang telah memindahkan hiasan ‘Salib kayu’ yang semula dipasang di kamar mandi/wc ke ruang tamu.
Orang Yahudi percaya bahwa setiap orang yang menjadi keturunan Abraham adalah anak Allah. Mereka pernah menjadi budak di Mesir dan mereka sekarang diperintah oleh orang Romawi. Karena mereka adalah keturunan Abraham, mereka percaya tidak akan pernah menjadi budak siapa pun. Keyakinan itulah yang mereka nampakkan dalam praktek hidup sehari-hari.
Allah mengutus Yesus untuk mengalahkan iblis agar kita tidak terkungkung dalam cengkeraman dosa. Di mana kita akan menempatkan dan memasang diri kita, agar orang lain dengan mudah melihat bahwa kita adalah orang tebusan-Nya? Atau: Ahh, maluuu…! Amin. (Esha).
“Sebagaimana Tuhan mengenalku, seperti itu juga aku berharap sesamaku mengenalku.”

http://www.gkjw.web.id/ahh-maluuuu

Kamis, 12 Maret 2015

Manungsa Boten Gadhah Panguwaos

Waosan : Yermia 10 : 11 – 25   | Pamuji: KPK 143 : 1-3
Nats: 
“ Dhuh Yehuwah, kawula mangertos, bilih manungsa punika boten gadhah panguwaos netepaken marginipun piyambak, lan tiyang ingkang andon lampah boten gadhah panguwaos netepaken jangkahipun. “(ayat 23)
Pengalaman ingkang lumampah ing gesanging manungsa, manungsa boten saged netepaken wekdal ingkang badhe lumampah. Conto kemawon menawi manungsa sampun nata rancangan kanthi teliti taksih kemawon wonten ingkang ketilaban. Menapa malih bab umur, boten wonten manungsa ingkang saged nyambung umur sinaosa sekedhik kemawon. Menapa malih brahala, ingkang dados rancanganipun manungsa, mesthi boten nggadhahi panguwaos menapa-menapa. Namung Gusti Allah kemawon ingkang kuwaos netepaken menapa ingkang badhe kelampahan.
Semanten ugi pengalamanipun nabi Yermia kados pundi anggenipun lumawan panyembah-panyembah brahala. Sang nabi rumoas ajrih lan kanthi pakurmatan ing ngarsanipun Gusti Allah. Nanging, sang nabi mirsani bilih brahala menika namung “tegoran kayu lan digawe saka tanganing manungsa, direngga klawan emas lan salaka, brahala iku kayadene wong-wongan ing kebon timun, ora bisa guneman, ora bisa lumaku, ora diwedeni.” Brahala menika bodho tur gemblung, piwucalipun tanpa gina, awit namung kayu kemawon.
Lah menapa malih menawi manungsa ingkang taksih nyembah brahala, menika boten nggadhahi panguwaos menapa-menapa awit ingkang dipun sembah sanes menapa-menapa namung wangunanipun manungsa. Pramila kanthi cetha bab ingkang dipun andharaken ing ayat 11-25, bilih Gusti Allah ingkang nitahaken sedaya samukawis, ingkang kagungan kekiyatan ngedab-edabi. Manungsa boten kaconggah ngetang panguwaosipun Sang Yehuwah. Saged ugi tetiyang sami keplayu menawi sami mirsani lan mangertosi panguwaosipun Sang Yehuwah. Kanthi mekaten kedahipun manungsa ugi mangertos bilih manungsa boten gadhah panguwaos, menapa malih bab lampah lan jangkahipun. Ingkang saged kita lampahi namung kanthi setya bekti dhateng Allah ing sedaya lampah. [Bpur]
Manungsa boten nggadhahi panguwaos, pramila kedah bekti ing ngarsanipun Gusti.”

http://www.gkjw.web.id/manungsa-boten-gadhah-panguwaos

Rabu, 11 Maret 2015

Raffi dan Gigi

Bacaan : Roma 5: 1-11  |   Pujian: KJ 185
Nats
: “…kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” (ay. 11)
Beberapa bulan lalu, hampir semua infotainment meliput dan membahas pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Peliputan yang sangat heboh ini tidak lain karena pernikahan dua selebritis tanah air itu disebut-sebut sebagai pernikahan termegah di tahun 2014. Bagaimana tidak, pernikahan Raffi dan Gigi ini sangat lengkap dan mewah. Mulai dari undangan yang dilengkapi kartu khusus, souvenir unik, busana mempelai dan keluarga rancangan desainer ternama, upacara midodareni, akad nikah dan dilanjutkan dengan dua kali pesta resepsi yang acaranya diisi oleh penampilan para artis papan atas. Pesta pernikahan itu juga konon menelan biaya hingga Miliaran Rupiah. Pendeknya, pesta itu mewah dan megah luar biasa…
Namun, siapa bilang kemegahan hanya bisa didapat melalui banyaknya Rupiah? Kemegahan ternyata tidak selalu identik dengan kemewahan. Dalam suratnya kepada Jemaat Roma, Rasul Paulus menyampaikan konsep uniknya tentang kemegahan. Menurutnya kemegahan tidak terdapat hanya dalam kemewahan atau keberlimpahan, namun dalam kesengsaraan. Aneh…, bagaimana mungkin kesengsaraan membawa kepada kemegahan? Di sinilah letak keunikan teologi Paulus. Dia menjelaskan argumentasinya dengan frase sebab-akibat: kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, tahan uji menimbulkan pengharapan dan pengharapan pada Tuhan tidak pernah mengecewakan (ay. 3-5). Inilah muaranya, bahwa dengan terus berpengharapan pada Tuhan kita bisa terus bermegah meskipun ada dalam kesengsaraan.
Memang hampir tak mungkin kita menggelar pesta pernikahan atau mantu semegah dan semewah Raffi dan Gigi. Namun, tak berarti kita tak bisa merasakan kemegahan. Dengan terus menaruh pengharapan kita pada Tuhan dan bukan pada manusia, kita bisa bermegah. Kita bermegah karena pengharapan kita adalah kepada Dia yang maha hebat… Ia tak pernah lalai menepati janjiNya dan selalu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan tepat pada waktuNya, kita berhak untuk menikmati kemegahanNya. (Rhe)

Pengharapan menjadikan hal yang tak mungkin menjadi mungkin.

http://www.gkjw.web.id/raffi-dan-gigi

Selasa, 10 Maret 2015

Diya-diniya

Waosan : Yohanes 7 : 37 – 52  | Pamuji: KPK 57 : 1,2
Nats: 
Temahane wong golongan padha diya-diniya (padu dhewe) bab ing ngatase Gusti Yesus. (ay. 43)
Pemilu presiden sampun kaleksanan taun kepengker kanthi asil miturut pengumumanipun KPU pasangan calon nomer kalih ingkang kapilih, nggih punika Bapak Jakowi lan Bapak Jusuf Kala. Pengumuman menika ingkang lajeng nuwuhaken diya-diniya ing antawisipun para “elite” politik. Mila pasangan ingkang rumaos dipun “curangi” gugat dateng MK (Mahkamah Konstitusi). Sareng dipun adili, MK mutusaken pasangan nomer kalih ingkang mimpang. Senadyan mekaten putusan menika taksih nuwuhaken diya-diniya kemawon ing antawisipun para “elite” politik.
Menapa ingkang dipun dhawuhaken dening Gusti Yesus ing waosan kita ayat 37b lan 38, ndadosaken para tiyang golongan sami diya-diniya. Wonten sawetawis tiyang ingkang ngucap: “Nyata yen Kanjeng Nabi kang kita anti-anti” (40). Sanesipun ngucap : “Iku Sang Kristus” (41a). Wonten malih ingkang ngucap: “Dudu, wijile Sang Kristus iku ora saka Galilea!” (41b). Diya-diniya ing antawisipun para tetiyang menika ingkang lajeng dados dhadhakan, sawetawis tiyang kepengin nyepeng Gusti Yesus, senadyan boten wantun. Farisi lan para pangagenging Imam (45) malah mastani para tiyang jagi menika sami dipun sasaraken, tiyang kathah kawastanan boten tepang kaliyan Toret, tiyang-tiyang menika sami kenging musibat (49).
Aben ajeng kaliyan kawontenan menika Nikodimus lajeng ngunandika: Punapa angger-angger kita ngukum tiyang saderengipun tiyang menika dipun priksa lan dipun yektosi pratingkahipun? Nikodimus ngajak para tetiyang menika supados boten gampil “main hakim sendiri”, ananging tansah nggadhahi sikap “praduga tak bersalah”.
Diya-diniya gegayutan kaliyan salah satunggaling bab, saged kemawon kelampahan ing antawis kita. Malah saged ugi kelampahan ing antawis kita tiyang Kristen, pasamuwan Kristen, brayat Kristen. Ingkang penting sampun ngantos kita kanthi gampil jeksani: ngene-ngono, iki-iku. Ananging kita kedah tansah anggadhahi sikap “praduga tak bersalah”, kanthi terus niti priksa lan ngyektosi pratingkahipun. Amin(SS)
“Nadyan beda panemu, ora prelu padu.”

http://www.gkjw.web.id/diya-diniya

Senin, 09 Maret 2015

Dibenarkan Karena Iman

Bacaan: Roma 4 : 1 – 12   |   Pujian: KJ 254
Nats: 
“Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” (ayat 3)
Di jaman sekarang ini tidaklah mudah mempercayai janji orang lain. Karena begitu mudahnya orang mengucapkan janji dan sekaligus mudah juga mengingkarinya. Janji-janji yang diucapkan sering dipakai untuk mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri. Sesudah mendapatkan apa yang diharapkan dari janji itu, begitu cepat dia lupa akan janjinya. Tidaklah demikian dengan Allah dan segala janjiNya.
Abaraham dipanggil Allah untuk pergi ke negeri yang ditunjuk oleh Allah. Allah berjanji akan memberikan negeri tersebut kepada keturunan Abraham. Di samping itu Allah telah menyatakan janjiNya yang agung bahwa di dalam Abraham segala bangsa di bumi ini akan diberkati (Kej. 12: 3). Itulah janji Allah yang dipercaya oleh Abraham pasti akan dipenuhi. Keyakinan inilah yang menunjukkan betapa besar iman Abraham yang dibenarkan oleh Allah.
Bacaan hari ini menyatakan bahwa Abraham telah dipilih oleh Allah sebagai orang yang diperkenanNya. Allah berkenan karena perwujudan iman Abraham yang teguh, mematuhi kehendak Allah sehingga Allah menjanjikan berkatNya kepada keturunannya. Paulus, dalam suratnya ini, menjelaskan bahwa yang menandai seseorang sebagai keturunan Abraham bukan hubungan darah, melainkan orang-orang yang meneladani perwujudan iman Abraham dengan mematuhi Firman Tuhan dan bersandar pada kasihNya. Abraham menjadi bapak rohani semua orang percaya. Jaminan terakhir akan kebenaran janji Allah kita dapatkan dalam diri Yesus Kristus, dimana kebenarannya disampaikanNya melalui kematianNya di kayu salib. Bahwa pendamaian, pembebasan dan pembenaran di dalam Allah yang kita miliki mempunyai harga yang sama dengan kehidupan dan kematian Yesus Kristus.
Sudahkah kita menerima janji Allah? Baik secara sadar maupun tidak sadar kita telah merasakan perwujudan janji-janji Allah dalam keselamatan dan kasihNya yang luar biasa dalam kehidupan kita dalam berkat jasmani maupun rohani yang dapat kita nikmati. Dengan keyakinan, kepercayaan, ketaatan dan iman kepada Tuhan Yesus Kristus, kita akan dibenarkan dan diberkati seperti Abraham yang telah dibenarkan Allah. [Sri]
 Setiap orang yang mau percaya kepadaNya akan memperoleh pembenaran Allah.”

http://www.gkjw.web.id/dibenarkan-karena-iman

Jumat, 06 Maret 2015

Allah Gregeten

Waosan: Yeremia 5: 1-19   |   Pamuji: KPK 46: 1,2,4.
Nats: “Umat-Ku wis Dakparingi mangan nganti wareg, éwasemono banjur padha nyembah brahala lan ngentèkaké wektuné kanggo nyundel.” (ay. 7b)
Pak Godi pinten-pinten dinten rumaos judheg menggalih putranipun. Pak Godi rumaos tansah nresnani putranipun kanthi nyata wiwit alit mila ngantos ageng. Sedaya kabetahaning gesangipun tansah dipun cekapi, mboten wonten kekiranganipun. Ewosmanten, putranipun mboten mbangun turut dhateng tiyang sepuh. Dhawuh-dhawuh pepengetipun tiyang sepuh mboten dipun gatosaken. Lare menika tansah manut pikajengipun piyambak. Wongsal-wangsul lare ndamel sekel (jengkel) manahipun tiyang sepuh. Temah, Pak Godi ngraosaken bilih putranipun menika saestu kebangeten.
Kinten-kinten mekaten ugi raos-pangraosipun Gusti Allah menggalih patraping umatipun, bangsa Israel lan Yehuda. “Umat-Ku wis Dakparingi mangan nganti wareg, éwasemono banjur padha nyembah brahala lan ngentèkaké wektuné kanggo nyundel.” (ay. 7b). Ing waosan kita dinten menika ketingal raosipun Allah ingkang judheg. Kejawi tansah dipun tresnani, dipun sembadani panyuwunipun lan dipun berkahi, umatipun menika wongsal-wangsul dipun engetaken dening para nabi utusanipun Allah. Ewosamanten, para nabinipun malah dipun prejaya pejah. Bangsa Israel lan Yehuda malah nyembah brahala, nyingkur Gusti Allah lan tumindak sapikajengipun piyambak ingkang cengkah (bertententangan) kaliyan karsanipun Allah. Temah, ugi ketingal anggenipun Gusti Allah rumaos gregeten. Bangsa Israel lan Yehuda menika saestu kebangeten.
Samangke mangga niti priksa patrap kita! Mesthinipun kita mboten selak bilih Gusti tansah nresnani kita, maringi kita berkah lan tedhan cekap saben dinten. Kita dipun paringi katentreman lan kabingahan ing gesanging pribadi lan brayat kita. Kita ugi asring dipun dhawuh-dhawuh pepenget dening Gusti. Nanging kados pundi tanggapan kita? Menapa kita sampun ngestokaken dhawuh-dhawuhipun? Menapa kita tansah ngurmati Panjenenganipun srana nindakaken menapa ingkang dados karsanipun? Sampun ngantos kita ndamel manahipun Allah Rama kita sekel lan gregeten! [ST]
“Kita mesthi berjuang memerangi diri. Bercermin dan banyaklah bercermin!
Tuhan ada di sini, di dalam jiwa ini, berusahalah agar Dia tersenyum!”
(Ebiet G Ade)

http://www.gkjw.web.id/allah-gregeten

Kamis, 05 Maret 2015

Buah-Buah Perbuatan

Bacaan: Yohanes 5:19-29 | Nyanyian KJ: 390
Nats: “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (ayat 28-29)
Sering orang bijak berkata bahwa apa yang kita alami saat ini adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu, dan apa yang akan kita nikmati kemudian hari adalah hasil perbuatan kita masa kini. Ini mengajarkan kepada semua orang untuk belajar dari masa lalu dan berbuat sebaik-baiknya pada masa kini.
Oleh karenanya mari kita belajar dari setiap hal atau kejadian yang kita alami atau dialami oleh orang lain. Karena, kalau kita jeli dalam mengamati setiap kejadian maka kita akan mendapatkan kebijaksanaan dalam menentukan sikap dan perbuatan pada masa kini. Saya pernah ingat ada orang yang mengatakan: “Hiduplah sesukamu tapi kamu pasti mati! Berbuatlah sesukamu suatu saat pasti akan dibalas! Cintailah apapun yang ada di dunia ini tapi suatu saat akan kamu tinggalkan!” Jadi apa yang ditulis di dalam nats di atas harus kita yakini kebenaranya.
Hidup dengan segala sikap dan perbuatan kita di dunia ini bagaikan menanam sesuatu yang kemudian tumbuh dan berbuah. Kwalitas yang akan diundhuh atau dipetik akan sangat ditentukan oleh sikap dan perbuatan kita. Jika sikap dan perbuatan kita baik dan benar, maka buahnya adalah baik dan kekal. Sebaliknya jika perbuatannya jahat, maka buahnya buruk dan kemudian busuk lalu dibuang untuk dibakar.
Sekarang apa yang harus kita lakukan setelah kita mendengar dan membaca Firman Tuhan yang kita yakini? Kalau kita tahu bahwa apapun yang kita lakukan pasti dibalas, kita pasti tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, ataupun menyakiti orang lain. Tetapi kenapa kok masih banyak orang yang sukanya menyakiti dan merugikan orang lain? Pertama, mungkin orang tersebut khilaf, bisa juga orang tersebut belum mengenal Firman Allah. Kita yang lebih dahulu paham akan Firman Allah harusnya bisa memberi inspirasi atau memberi teladan pada mereka yang khilaf atau belum memahami Firman Allah. Selamat mencoba Tuhan Yesus memberkati.[HB]
Dunia yang bermakna hanya terjadi jika tujuan hidup bukan tentang diri sendiri. (Mata Najwa)

http://www.gkjw.web.id/buah-buah-perbuatan

Selasa, 03 Maret 2015

Kacang Lupa Pada Kulitnya



Bacaan: Yeremia 2 : 1-13.|   Nyanyian: KJ 393
“Dan mereka tidak lagi bertanya: Di manakah Tuhan.” (ay.6)
Sebuah pepatah klasik patut untuk kita renungkan, “kacang lupa pada kulitnya.” Sebuah ungkapan tentang sikap seseorang yang terlalu sombong sampai-sampai lupa pada asal usulnya. Kaya lupa saat miskin, sehat lupa saat sakit. Sikap seperti ini biasa terjadi saat seorang menikmati kesuksesan yang didapat secara instan. Merasa mudah menggapai sukses dan hebat, lupa pada masa lalunya. Akhirnya kesombongan yang muncul dan bersikap semaunya sendiri.
Bangsa israel adalah umat yang dicintai Tuhan. Saat mereka diperbudak bangsa Mesir, Tuhan menciptakan skenario besar untuk membebaskan mereka dari perbudakan. Tak dapat dipungkiri bahwa pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir semata-mata adalah karena kemurahan Tuhan. Maka sangat disayangkan setelah keluar dari tanah Mesir, bangsa Israel mulai meremehkan Tuhan. Kemurahan Tuhan yang pernah bahkan berkali-kali diterima dan dinikamti, tak pernah diingatnya lagi. Tak pernah lagi mereka bertanya, di manakah Tuhan?
Hidup ini penuh dengan momentum-momentum yang unik dan menarik. Kadang penuh dengan kebahagiaan. Tetapi tak jarang pula ada tangis dukacita. Kebiasaan manusia adalah menyebut-nyebut nama Tuhan di saat duka. Namun melupakan Tuhan di saat suka. Padahal bila kita renungkan, hanya Tuhanlah sang sumber berkat. Dari kemurahanNya sajalah kita beroleh segala macam berkat. Tidak ada setetes berkatpun yang kita peroleh karena kehebatan kita sebagai manusia. Apapun yang kita miliki dan peroleh, itu hanya terjadi karena perkenan Tuhan.
Jikalau sudah begitu, pantaskah kita memegahkan diri dan menggangap bahwa kita adalah manusia yang hebat, manusia yang tidak pernah mengakui peranan Tuhan dalam kehidupan kita? Haruskah kita mengalami kesulitan, guncangan kehidupan agar kita mengingat keberadaan Tuhan? Sebagai manusia ciptaan Tuhan, seharusnya kita mawas diri. Bahwa Tuhanlah satu-satunya penguasa kehidupan yang maha murah. Semua hanya bisa terjadi atas perkenanNya. (Oka)
“Bagi manusia bijak, kesuksesan adalah pemberian Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma. Tak pantas memegahkan diri.”
http://www.gkjw.web.id/kacang-lupa-pada-kulitnya

Senin, 02 Maret 2015

Ngudi Kabungahan



Waosan: Yohanes 4: 27-42/ Pujian: KPK 65: 1
“ . . . kang dadi panganKu iya iku anggonKu nglakoni karsane kang ngutus Aku.“ (ay. 34)
Tetedhan menika kalebet kabetahan utami (primer), awit manungsa boten saged kapisah saking kebetahan nedha. Nanging kita kedah mangertos bilih nedha menika namung salah satunggiling kabetahan. Wonten kabetahan sanesipun ingkang ugi wigatos sanget, inggih punika raos bingah (manah ingkang ayem lan tentrem, kebak raos sokur lan panuwun). Sampun ngantos klentu mangertos. Ingkang katuju bab raos bingah menika boten lajeng gemujeng cekaka’an, nanging raos bingah ing lebeting manah lan batos. Dereng tamtu kabingahan ingkang kados mekaten menika amargi prekawis ingkang murugaken gesangipun langkung sakeca, malah saged ugi secara kajasmanen tambah sisah. Conto: Pak Dadap ngeculaken kagunganipun ingkang saestu dipun eman, inggih menika peksi. Iklas kasade supados tangginipun saged nyekolahaken anakipun! Kecalan kareman nanging bingah, awit tiyang sanes kapitulungan.
Para sakabat sami nyuwun pirsa bab tetedhan jasmani, nanging Gusti Yesus paring wangsulan bab tetedhan rohani. Wonten wancinipun kita ngrembag kajasmanen, nanging ing wegdal ingkang mirunggan, kita perlu sanget nggatosaken tetedhan rohani. Awit sajatosipun ingkang nglambari gesang kita punika sanes kajasmanen kita nanging karohanen kita. Sanadyan kabetahan jasmani kita mubra-mubru boten ateges lajeng gesang kita kalimputan kabingahan. Rak nggih sampun cetha bilih ing masyarakat kathah tiyang ingkang sugih sanget nanging ngalami sesakit awrat utawi gesang bebrayatanipun kebak pasulayan?
Mila Gusti Yesus ngarahaken manahipun para sakabat dhateng bab ingkang aji sanget ing gesang, nggih punika nglambari gesang padintenan kaliyan nindakaken karsanipun Gusti. Sikap mekaten ingkang badhe mbekta kita dhateng kabingahan. Nglirwakaken karsanipun Gusti badhe nuwuhaken raos ajrih, kuwatos, temah manahipun boten saged ngalami ayem tentrem. Kosokwangsulipun, menawi kita saged nindakaken karsanipun Gusti, nadyan gesang punika wonten ing satengahing bebaya, manah badhe saged tetep ayem tentrem, awit Gusti mesthi nunggil. [_smdyn]
“Kasagedna kawula uwal saking godha rencana”
http://www.gkjw.web.id/ngudi-kabungahan