Rabu, 19 Maret 2014

Permintaan Konyol



Bacaan : Matius 20 : 17 – 28
Pujian : KJ 376
Nats : “Kata Yesus: “apa yang kau kehendaki?” jawabnya: ‘berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu, dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” [ayat 21]

Setiap ibu menginginkan anak(-anak)nya kelak ketika sudah dewasa mengalami hidup mulia. Keinginan ini sudah muncul sejak anak baru lahir, bahkan masih dalam kandungan. Kemudian keinginannya diserahkan kepada Tuhan dalam doanya. Bahkan diucapkan kepada anaknya ketika masih digendongnya.
Begitulah juga keinginan Salome atas kedua anaknya, Yakobus dan Yohanes. Dia ingat pada janji Yesus (Mat. 19: 28) dan menagih janji itu untuk kedua anaknya. Namun, ia lupa bahwa Yesus baru saja berbicara tentang salib (20: 17-19). Ia seharusnya tahu bahwa satu-satunya jalan menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan (1 Pet. 5:10).
Salome seharusnya tahu bahwa jalan satu-satunya menuju kemuliaan adalah melalui penderitaan. Salome tidak dapat hanya meminta sebuah kedudukan, tetapi harus membayar dengan harga mahal. Harga mahal untuk menuju kemuliaan sudah dibayar lunas oleh Tuhan Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib. Sudah barang tentu Salome dan kedua anaknya harus mau menderita untuk melayani Tuhan Yesus. Ternyata benar bahwa Yakobus adalah Rasul pertama yang menjadi Martir (Kis. Rasul 12:1-2) dan Yohanes mengalami kesusahan yang berat sebagai tawanan Romawi (Wah 1:9). Dengan penderitaan Yakobus dan Yohanes sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan mendapat kemuliaan dari Tuhan.
Bagi kita yang hidup saat ini tentunya mau menderita untuk melayani Tuhan Yesus, untuk mendapatkan sebuah kemuliaan, sekalipun tidak harus berdarah-darah ataupun menjadi seorang tawanan tetapi kita bisa memberikan waktu, tenaga, pikiran, dll. Tetapi untuk mendapatkan kemuliaan itu, kita harus mau selalu merendahkan diri di hadapan Tuhan dan manusia. Dan kemuliaan itu juga bagi kemuliaan Tuhan sendiri. [DG]
“Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan dan kerendahan hati”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar