Senin, 23 September 2013

Kebaikan Tak Pernah Bersyarat

Bacaan : Lukas 6:6-11.
Nyanyian : KJ 378: 1
Nats : “… manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (ayat 9)
Pernahkah kita membaca kalimat iklan semacam ini:
§  “Diskon 50%” *untuk pembelian ke dua.
§  “Gratis telpon 1500 detik” *setelah isi ulang Rp. 100.000,-.
§  “Beli 2 gratis 1” *hanya untuk yang bertanda khusus, dan memiliki kartu berlangganan.
Banyak tawaran menarik dan terlihat baik dari kalimat-kalimat iklan sebuah produk tertentu. Tapi kebaikan yang mereka tawarkan semuanya bersyarat. Harus ini dan itu, barulah bisa mendapatkan sesuatu yang baik yang mereka tawarkan. Bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari pun, kebaikan yang kita lakukan atau kita terima kadang bersyarat. Kita mau berbicara lemah lembut, jika orang lain juga ramah kepada kita. Kita bersedia tersenyum tulus, jika orang lain juga memberi senyuman untuk kita. Demikianlah kadang kita membuat syarat atas kebaikan yang kita berikan kepada orang lain.
Namun hari ini kita akan belajar dari sikap Tuhan Yesus yang memberikan kebaikan tanpa syarat. Meski Tuhan Yesus paham benar bahwa orang-orang Farisi akan menentang-Nya saat Ia menyembuhkan orang sakit di hari Sabat, tetapi justru keadaan ini dipakai Tuhan Yesus untuk memberikan pengajaran bahwa kebaikan itu haruslah dilakukan tanpa syarat. Sehingga Tuhan Yesus menantang mereka dengan pertanyaan: “…manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Dan Tuhan Yesus bukan hanya sekedar mengajar, tetapi memberikan teladan secara langsung dengan menyembuhkan orang sakit itu. Tuhan Yesus mau menekankan bahwa hukum Taurat tentang hari Sabat maupun tentang hal lain, bukan untuk menghalangi umat melakukan perbuatan baik. Karena setiap hukum Allah pastilah ditujukan untuk kebaikan. Dan kebaikan sesungguhnya selalu tanpa syarat. Jika kebaikan itu bersyarat, apakah itu bisa disebut sebagai kebaikan?
Bagi kehidupan kita sebagai pengikut Kristus, masihkah berlaku kebaikan bersyarat untuk kita lakukan bagi orang lain? [dee]
“Hanya kebaikan tanpa syaratlah yang disebut kebaikan yang baik.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar