Jumat, 11 Juli 2014

Selalu Mencari Kesalahan



Waosan : Matius 12 : 1 – 6  |  Pujian: KJ 467
Nats : “Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?…” [ayat 5]

Di sebuah Sekolah Luar Biasa (untuk siswa cacat mental) terjadi pertengkaran. Si A melaporkan kepada gurunya bahwa si B menggigit kupingnya sampai berdarah. Si Guru bertanya kepada si B: “Apakah benar kamu menggigit kuping si A?” Tetapi si B menjawab dengan mesam-mesem: “Ti…iii….dak!” Si A tetap ngotot bahwa si B telah menggigit kupingnya. Guru itu sekali lagi menanyakan kepada si B. Tetapi si B tetap saja menjawab: “Ti…ii…dak! O…o…rang di..ii..a se..se..en..diri ya..ng me…nggiii..git ku..u..pingnya.” Si guru bergumam dalam hatinya ‘dasar anak cacat, mana mungkin orang menggigit kupingnya sendiri.’
Demikianlah orang suka tidak sadar atau tidak mau mengakui kesalahannya, tetapi berusaha mencari kesalahan orang lain. Demikianlah sikap orang-orang Farisi dalam bacaan kita hari ini. Mereka selalu berusaha mencari kesalahan Yesus atau murid-muridNya. Sehingga, dalam cerita ini, ketika melihat murid-murid Yesus memetik gandum dan memakannya pada hari Sabbat, mereka spontan menyalahkan Yesus. Sikap mereka yang suka mencari kesalahan orang lain itu didorong juga oleh ketidaksukaan mereka terhadap Yesus. Sikap benci mereka membuat mereka memandang segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan oleh Yesus dan murid-muridNya selalu salah, tanpa menyadari bahwa golongan mereka sendiri juga melakukan kesalahan, bahkan kesalahan yang lebih besar.
Tuhan Yesus menyebut Daud dan para pengikutnya yang melakukan hal serupa di Bait Allah, bukan dalam rangka menyalahkan  Daud. Dia berusaha memahami orang lapar yang membutuhkan makanan. Tuhan Yesus juga tidak serta merta menyalahkan para Imam yang melanggar hukum Sabbat di Bait Allah.
Mari kita belajar, selalu ingat dan berlatih untuk tidak suka mencari kesalahan orang lain. Sebaliknya, mari berusaha selalu menyadari kesalahan kita sendiri. [ST]
“Pandanglah pelaku kesalahan bukan sebagai yang bersalah, tetapi sebagai yang bermasalah untuk dipahami dan ditolong!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar