Sabtu, 18 Januari 2014

Gusti Nresnani Wong Dosa



Bacaan : Ibrani 4 : 1 – 5, 11
Pujian:  KJ 266
Nats : “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentianNya masih berlaku” [ayat 1]

Bagi orang-orang sipil seperti saya, hidup di tengah keluarga yang berlatar belakang militer tentu bukanlah sesuatu yang nyaman. Hal ini mengingat bahwa sebagai orang sipil saya cenderung kurang begitu disiplin sementara ayah saya begitu disiplin, terutama soal waktu. Ketika masih kecil, saya teringat bahwa kami sekeluarga seringkali memilih untuk menggunakan kereta api sebagai alat transportasi. Saat itu, jadwal kereta api tidaklah seteratur seperti saat ini, sehingga setiap penumpang harus bersikap ekstra siap atau waspada agar tidak ketinggalan kereta. Demikian pula halnya dengan ayah saya.  Setidaknya dua jam sebelum kereta datang dan berangkat dari stasiun, kami sudah standby di stasiun menunggu kedatangan kereta.
Ayat bacaan kita saat ini memberikan peringatan kepada kita untuk senantiasa waspada. Kepada kita diberitakan kabar sukacita sama seperti yang diterima oleh bangsa Israel. Ibarat memiliki tiket kereta api yang akan membawa kita kepada perhentian-Nya, baik kita maupun bangsa Israel telah memiliki tiket tersebut. Namun yang perlu kita perhatikan adalah apakah kita telah menjadi waspada dalam memelihara iman kita agar tetap bertumbuh, atau jangan-jangan kita sudah menjadi lengah dan tanpa sadar melewatkannya begitu saja.
Kebanggaan sebagai bangsa yang terpilih sepertinya malah menjadikan bangsa Israel terlena, sehingga ketika kabar sukacita itu didengar, seolah-olah telah menjadi sesuatu kabar yang biasa-biasa saja. Dengan kata lain, mereka telah memiliki tiket tersebut namun melewatkan “Kereta Api” milik Tuhan yang akan membawa mereka ke tempat kudus-Nya. Perjalanan kehidupan yang panjang telah membuat mereka menjadi lengah dalam memelihara imannya kepada Dia yang telah datang secara khusus untuk melawat umat-Nya. Bagaimana dengan kita, apakah kita telah menjadi lengah dalam memelihara iman kita dan membiarkan keselamatan itu lewat begitu saja?   Tetaplah waspada dan jangan lengah, nantikanlah janji Tuhan dan senantiasa berkarya demi kemuliaan nama-Nya. Amin. [DK]
“Perjalanan hidup ibarat sebuah perjalanan panjang, namun ada saatnya di mana kita akan berhenti”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar