Selasa, 21 Januari 2014

Sabar Menanti Janji Tuhan


Bacaan : Ibrani 6 : 9 – 20
Nyanyian : KJ 84
Nats : Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. [10]

Sering kita jumpai banyak anak-anak Tuhan yang selalu mengeluh dan bersungut-sungut ketika melayani Tuhan. Mereka berkata, “Mengapa hidupku penuh masalah dan tidak mengalami perubahan apa-apa, padahal aku sudah bertahun-tahun melayani Tuhan? Sedangkan orang lain yang tidak terlibat pelayanan hidupnya lebih enak dan terlihat tidak pernah berkekurangan. Lebih baik tidak usah capek-capek melayani Tuhan, mending santai-santai, pelayanan ‘kan urusan hamba Tuhan atau fulltimer. Kupikir Tuhan telah menutup mata atau melupakan segala jerih payah dan pekerjaan yang kulakukan untuk Dia.” Orang seperti ini menjadi lemah dan tidak lagi bersemangat melayani Tuhan. Secara perlahan ‘api’ itu redup dan akhirnya benar-benar padam.
Anggapan bahwa Tuhan diam saja adalah salah besar! Firman Tuhan dengan sangat jelas menyatakan bahwa Tuhan akan memperhitungkan segala yang kita kerjakan untuk kemuliaan nama-Nya. Apa pun pelayanan kita, tidak satu pun yang terlewat dalam pandangan-Nya. Tuhan sudah menyediakan upah! Penulis Amsal berkata, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” (Amsal 14:23a). Maka dari itu Abraham tetap menunjukkan kesungguhannya dan terus berpegang teguh pada pengharapan, dia menanti janji Tuhan dengan sabar, dan pada waktuNya ia memperoleh apa yang dijanjikan baginya.
Bila saat ini janji Tuhan serasa jauh dan belum sepenuhnya dinyatakan dalam hidup kita, jangan menjadi kendor apalagi frustasi, tetapi “…berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Apa yang dijanjikan Tuhan tidak pernah diingkari-Nya, pasti akan ditepati pada waktu yang tepat. Kita tidak perlu kuatir. Kita fokus saja pada tugas pelayanan kita dengan tulus tanpa pamrih. [HB]

“Mengasihi dan melayani Tuhan adalah hak istimewa yang diberikan kepada kita. Memberi upah adalah hak dan tanggung jawab Tuhan sendiri.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar