Senin, 11 November 2013

Sirine Ambulans



Bacaan : Lukas 13 : 10 – 17  |
Pujian  : KJ 424
Nats : “Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh”[Ayat 12]

Di tengah padatnya lalulintas, tiba-tiba terdengar sirine mobil ambulans. Apa yang diucapkan dalam hati para pengguna jalan yang mendengar sirine itu? “Aduh, kasihan” “Semoga baik-baik saja” “Tuhan memberkati” bahkan, ada juga yang curiga: “O, nggak ada pasiennya itu. Biar sopirnya dapat jalan cepat”.
Ya, pastilah ada banyak pendapat yang dikatakan banyak orang dalam hati mereka saat mendengar sirine ambulans. Setiap hal yang ada dalam hati mereka, akan menggerakkan sikap mereka. Saat hati merasa iba dan ikut mendoakan, sikap yang dilakukan adalah segera memberi jalan supaya ambulans bisa lewat lebih dahulu. Meskipun ada orang yang curiga bahwa ambulans tidak membawa pasien, sehingga mereka tidak mau memberi jalan, namun orang yang berbelas kasihan dengan sungguh tidak akan memperdulikan kecurigaan orang lain. Ia akan tetap memberikan pertolongan nyata dalam bentuk memberi jalan bagi ambulans. Apakah sikap ini juga bisa disebut sebagai sikap yang mengabdi kepada Allah?
Pastinya, mengabdi kepada Allah bukanlah ilmu kebatinan. Mengabdi kepada Allah bukan hanya mengatakan hal baik di dalam hati (dibatin). Tetapi kebaikan hati itu harusnya mendorong kita untuk melakukan tindakan nyata untuk memberikan pertolongan, sesederhana apapun bentuknya.
Seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuki roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak, membuat hati Tuhan Yesus iba. Tetapi belas kasihan Tuhan Yesus tidak hanya berhenti di dalam hati. Tuhan Yesus memanggil dia dan memberikan pertolongan secara nyata. Perkataan Tuhan Yesus kepada ibu itu adalah sebuah pertolongan nyata yang pastilah berawal dari apa yang dilihat Tuhan Yesus, dan rasa iba yang mendorong pertolongan itu. Bahkan, Tuhan Yesus tidak menghiraukan kepala rumah ibadat yang merasa bahwa pertolongan Tuhan Yesus tidak tepat karena dilakukan pada hari Sabat. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kebaikan hati itu tidak boleh berhenti hanya sebagai ilmu kebatinan atau berhenti dalam hati saja.
GKJW memliki 6 (enam) Rumah Sakit. Di Malang: RSB Mardi Waluyo Rampal, RSIA Mardi Waluyo Kauman, RS Marsudi Waluyo Singosari. Di Mojokerto: RS Reksa Waluya. Di Mojowarno: RSK Mojowarno. Di Ponorogo: RS Griya Waluyo. Ini adalah bentuk kepedulian GKJW bertindak secara nyata memberikan pertolongan bagi yang sakit. Meski masih dengan segala keterbatasan, namun inilah upaya nyata yang ingin diwujudkan GKJW bagi sesama sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Lalu, bagaimana dengan kita secara pribadi? Apa yang bisa kita lakukan bagi sesama? [dee]
“Berbelas-kasihlah terhadap sesama, bersikap-keraslah kepada diri sendiri” [Einstein]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar