Sabtu, 01 November 2014

Arti Sesama


Bacaan : Roma 16 : 3 – 9, 16 – 27  |  Pujian : KJ 15 Nats: “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.”[ayat 16]
Seorang ayah yang bekerja jauh dari keluarganya memutuskan untuk pulang setelah 1 tahun tak bertemu keluarganya. Sebelum pulang, ia telah menelepon istrinya untuk berjanji makan malam bersama dengan anak-anaknya di rumah. Dia memimpikan melepas rinduannya dengan keluarga tercintanya. Sayangnya, semua mimpinya akan makan malam yang menggembirakan justru menjadi kekecewaan. Istri dan anak-anaknya masing-masing sibuk dengan gadget mereka, tidak ada satupun kata terucap menanyakan kabar darinya ataupun mengenai cerita-cerita yang ingin mereka bagikan, bahkan mereka tak melihat satu sama lain. Sang Ayah pun mengambil piringnya dan pergi ke kamar untuk menyelesaikan makan malamnya. Karena tidak melihat ada genangan air hujan di lantai yang disebabkan oleh atap bocor, ia terjatuh dan kakinya patah. Keluarganya tidak ada yang mendengar karena headphone yang mereka gunakan. Setelah sang ayah berteriak dengan suara keras, mereka menelepon ambulans, lalu…. kembali ke gadget mereka lagi.
Di manakah arti persaudaraan dari keluarga tersebut? Yang disebut “saudara” bukan hanya dari hubungan darah, namun ditunjukkan dengan cinta kasih bagi sesamanya. Di gereja pun kebanyakan orang hanya duduk, mendengarkan pendeta, bernyanyi, memberi persembahan dan langsung pulang. Padahal, satu fungsi gereja adalah sebagai tempat untuk bersekutu. Bersekutu di gereja adalah saling menegur, menguatkan dan membantu antar jemaat, sehingga tidak ada rasa malu atau khawatir jika ingin curhat kepada sesama warga.
Di Surat Roma yang telah kita baca, di situ tertulis banyak kata “salam”, dimana Paulus berusaha mempertahankan kedekatan dengan sesama jemaat Kristen. Di situ pula Paulus menulis beberapa peringatan mengenai ajaran sesat yang harus diwaspadai oleh jemaat, supaya semuanya tetap dalam jalan yang benar. Di sinilah firman Tuhan mengenai saling bersekutu dan peduli terhadap sesama terlaksanakan. Marilah kita melaksanakannya juga di lingkungan kita. [Sri]
“Kedekatan tempat dan hubungan darah tidak ada artinya tanpa persekutuan yang sebenarnya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar